الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد
Dua Jalan Hidup yang Kita Jalani
Allaah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan dua jalan kehidupan pada manusia untuk dipilih dan dijalani, yakni jalan fasik dan jalan takwa. Sehingga setiap manusia akan menjalani kehidupan dengan dua jalan tersebut dan ia akan diminta pertanggungjawabannya.
Allaahu ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam firman-Nya,
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاها قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: “Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu (dengan ketakwaan) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (dengan kefasikan).” [Qs Asy Syam/91: 7-10]
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr/59 : 18)
1. Pembuatan Keputusan Ideal. Proses pembuatan keputusan hendaknya melibatkan berbagai unsur yang terlibat dalam organisasi sekolah dengan menghidupkan sikap dan perilaku mulia berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah. Keputusan yang didasarkan kepada hasil musyawarah dan kesepakatan bersama akan memiliki pengaruh yang kuat dalam proses implementasinya. Oteng Sutisna (1983:149) menyatakan bahwa “suatu putusan sebenarnya proses memilih tindakan tertentu antara sejumlah tindakan alternatif yang mungkin.” Pembuatan keputusan merupakan salah satu fungsi manajemen yang harus dilakukan oleh penyelenggara sekolah yang memiliki dampak pada organisasi. Sebab proses pembuatan keputusan merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan-tujuan dari unit yang menjadi tanggung jawabnya. Prosedur yang dilakukan dalam pembuatan keputusan adalah: (1) menentukan masalah, (2) menganalisa situasi yang ada, (3) mengembangkan alternatif-alternatif kemungkinan, (4) menganalisa alternatif-alternatif kemungkinan, dan (5) memilih alternatif yang paling mungkin.
WAKTU PENDAFTARAN
- Tanggal
11 Februari – 30 Maret 2013, Senin s/d Jum’at Pukul 09.00 – 13.00 WIB,
Sabtu Pukul 09.00 – 12.00 WIB.
- Wawancara
orang tua dan Observasi Anak, setiap hari Sabtu, Tgl 23
februari,2,9,16,23,30 Maret s/d 6 April 2012. (Jadwal terlampir pada kartu
peserta).
- Pengumuman
hasil observasi, Tanggal 27 April 2013
SYARAT DAN KETENTUAN PENDAFTARAN
- Mengisi
formulir pendaftaran yang telah disediakan
- Foto
copy akta kelahiran sebanyak 2 lembar
- Foto
copy raport TK A semester 1 dan 2 dan Foto copy Laporan Hasil Belajar Peserta Didik TK B semester 1
- Surat
keterangan lulus TK (Foto copy Iijazah menyusul)
- Pas
foto hitam putih 3 X 4 sebanyak 2 lembar
- Membayar
biaya observasi sebesar Rp. 100.000,-
- Materai
senilai Rp 6.000,-
- Usia
minimal 5 tahun 8 bulan pada Juli 2013.
Orang tua adalah sekolah
pertama bagi anak-anaknya. Dari orang tualah pertama-tama anak mendapatkan
berbagai macam pelajaran, yang baik maupun yang buruk. Jika orang tua mampu
menerapkan pola didik yang baik, anak akan tumbuh menjadi sosok dengan
kepribadian unggul. Sebaliknya, jika orang tua menerapkan cara mendidik yang
salah, anak pun tumbuh akan menjadi pribadi yang tidak baik. Pendidikan yang
diterima pada masa kanak-kanak akan membangun karakter seseorang hingga dewasa
kelak.
Begitu pentingnya
pendidikan yang baik dari orang tua kepada anaknya. Sayangnya, kerap kali orang
tua tanpa menyadari telah menerapkan cara mendidik yang salah terhadap
anak-anaknya. Akibatnya, karakter-karakter negatif pun terbangun dalam diri
anak. Berikut ini adalah cara mendidik anak yang salah, yang kerap dipraktikkan
orang tua.
.Terlalu memanjakan dan selalu memenuhi permintaan anak
Anak yang terlalu
dimanja oleh orang tuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang lemah dan tidak
dapat mandiri. Ia akan selalu bergantung pada orang-orang di sekitarnya.
Permintaan yang selalu dituruti, akan membuat anak menjadi malas berusaha dan
bekerja keras.
Mengancam dan menakuti-nakuti
Orang tua sering
mengancam dan menakut-nakuti anak saat anaknya sulit dibujuk untuk diam saat menangis
atau tidak mau menurut. Anak diancam akan ditinggal pergi atau dipukul. Anak
juga ditakut-takuti dengan gambaran hantu, suara petir, atau gelap. Cara
mendidik seperti ini akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang penakut.
Bahkan mungkin, setelah dewasa ia masih merasakan ketakutan pada hal-hal yang
ketika masa kecil dijadikan alat untuk menakutinya.
Menghina dan menyalahkan
Cara mendidik anak
seperti ini akan membuat anak menjadi tidak percaya diri, apalagi jika hal itu
dilakukan di depan teman-temannya.
Tidak konsisten
Sering kali orang tua
tidak menunjukkan sikap yang konsisten. Misalnya, suatu ketika melarang anak
menonton televisi yang acaranya untuk konsumsi orang dewasa, tetapi di lain
waktu membiarkan hal itu dilakukan anak. Atau, mengizinkan anak melakukan
hal-hal yang sebelumnya dilarang setelah anak merengek dan menangis. Sikap
tidak konsisten ini akan membuat anak bingung membedakan mana yang boleh dan
mana yang tidak. Hal ini juga akan membuat anak menggunakan tangisan sebagai
senjata untuk mendapatkan keinginannya.
Membandingkan dengan saudara atau temannya
Membandingkan anak
dengan anak lain, bisa membuat dia minder, tidak menjadi dirinya sendiri, dan
menjadi seorang yang pendendam.
sumber :
psikologiperkembangan.com
Langganan:
Postingan (Atom)



