By Fauzil Adhim

Baik,mari kita buka What Works in Schools: Translating Research into Action yang ditulis oleh Robert J. Marzano. Soal penelitian, Marzano memang dikenal sebagai pakar paling kompeten dalam masalah manajemen kelas. Dari penelitiannya secara intensif selama lebih dari 40 tahun, Marzano telah menghasilkan tak kurang dari 25 buku yang menjadi rujukan penting tentang bagaimana seorang guru seharusnya mengelola kelas.
Lalu apa yang bisa kita petik dari What Works in Schools? Banyak hal. Di antaranya yang menarik perhatian saya adalah kesimpulan Marzano tentang 11 faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa. Kesebelas faktor tersebut tersebar dalam 3 aspek, yakni sekolah, guru dan siswa.
Agar pembicaraan kita lebih efektif, mari kita perbincangkan satu per satu secara ringkas:
Sekolah. Faktor pertama yang sangat menentukan kemampuan sekolah mengantar siswa meraih sukses adalah jaminan bahwa kurikulum yang berlaku di sekolah benar-benar layak diandalkan dan dapat diterapkan oleh guru-guru. Sebaik apa pun kurikulum yang telah dirumuskan oleh sekolah, jika guru-guru tidak mampu menerjemahkan dalam tindakan kelas, maka kurikulum tersebut akan sia-sia. Ujung-ujungnya, untuk memenuhi tuntutan kurikulum, yang dilakukan oleh guru bukan menerapkan kurikulum tersebut setepat dan sebaik mungkin, tetapi melakukandrilling. Sebuah proses latihan agar siswa terampil mengerjakan soal. Bukan memahami materi dan konsep sehingga menguasai pelajaran dengan baik.
Kedua, tujuan yang menantang dan umpan balik yang efektif(challenging goals and effective feedback). Tujuan yang mudah dicapai, tidak merangsang kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Sebabnya, tanpa usaha kita bisa meraih tujuan tersebut dengan mudah. Sebaliknya, tujuan yang terlalu sulit dicapai, sementara kapasitas mental untuk berusaha meraih dengan gigih belum terbentuk dengan kuat, menjadikan seseorang merasa tidak mampu meraih. Akibatnya, ia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berusaha.
Sebaliknya, tujuan yang menantang akan mendorong kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Kita berjuang mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Semakin upaya kita mendekatkan pada tujuan, semakin kita bergairah. Semakin yakin bahwa upaya yang kita lakukan sudah tepat dan ada manfaatnya, maka akan semakin bersemangat kita melakukannya. Ini berarti perlu umpan balik yang tepat. Tanpa umpan balik yang efektif, semangat yang menyala-nyala itu bisa surut kembali. Meskipun ada sebagian orang yang tetap bersemangat tatkala usahanya tidak memperoleh umpan balik yang berarti, tetapi jenis orang seperti ini sangat sedikit.
By Munif Chatib
Sungguh bahagia rasanya, kala seorang
sahabat memberikan ulasan terhadap teori multiple intelligence menurut sudut
pandangnya. Jika boleh berbagi saya juga terangsang untuk mengulas tentang
makhluk apakah multiple intelligences itu, yang diyakini mempunyai
keberagamanan penafsiran banyak orang.
Paradigma multiple intelligences itu
harus dibuktikan dengan fakta, bukan dengan teori.
Ketika Gardner tahun 1983 di Harvard
University memunculkan teori mi, banyak pakar kecerdasan membantahnya. Sahabat
saya mencoba membuat list tentang para pakar yang tidak setuju dengan teori mi
ini. Ada Ken Richardson yang bilang kalau keunggulan manusia itu memang sudah
ada dari ‘sononya’. Ada Francine Smolucha yang bilang Gardner dan Mi-mnya
kurang data. Ada Goerge Miller yang bilang mi tidak memiliki ‘evidence’ yang
kuat dan pemborosan waktu. Sahabat saya sendiri bilang MI itu istilah kebetulan saja pengganti istilah
‘talent’, dan tidak di dukung bukti yang kuat. Dan seterusnya dan seterusnya.
Menurut saya, MI adalah sebuat teori
kecerdasan yang sangat terbuka dan menghargai potensi individu sekecil apapun.
Seseorang mempunyai MI jika dalam aktivitasnya sudah memunculkan prestasi yang
mempuyai benefit (daya manfaat), sekecil apapun itu. Saya pikir teori ini
sangat menghargai manusia sebagai ciptaan Sang Maha Agung. Allah SWT tidak
pernah memproduksi produk-produk gagal. Malah saya mendapat banyak bukti
sebagai fakta, banyak anak yang mempunyai hambatan, ketika MI-nya di hargai dan
terus dipantik, maka anak itu menjadi JUARA di bidangnya masing-masing.
Saya berusaha memunculkan bukti-bukti
ini dalam buku saya yang ke-3 ORANGTUANYA MANUSIA, semoga sahabat saya membaca
buku ini. Walhasil kalau teori di lawan dengan teori tidak akan ada habisnya.
Paradigma baru harus menghadirkan fakta. Saya dan banyak orang yang mempunyai
fakta, bahwa setiap manusia mempunyai keunggulan. Dalam perspektif saya, itulah
teori MI. Jika kita tidak percaya setiap orang mempunyai keunggulan, meskipun
sekecil debu, wow ini bahaya, sebab kita akan banyak masuk dalam
jebakan-jebakan semu dalam arti selalu memandang rendah orang sebab tidak
memiliki kemampuan. Padahal kemampuan itu ada, hanya belum terlihat saja.
Pernah dengar Potamopyrgus Antipodarum?
Itu bukan nama planet, bukan nama bintang, bukan jenis manusia purba, juga bukan makanan, he.Potamopyrgus Antipodarum atau dikenal juga sebagai Potamopyrgus Jenkinsi, adalah satu jenis siput yang hidup di New Zaeland. Siput ini unik, karena dapat berkembang biak dengan dua cara. Yang pertama dengan cara hubungan suami istri. Eh, kayak manusia aja. Maksud saya dengan cara sexual. Dan yang kedua tanpa perlu pasangan atau asexual. Dengan cara kedua ini, si siput Potamopyrgus Antipodarum dapat mengkloning dirinya sendiri.
Kita tidak akan berpanjang-panjang membahas mengenai si siput yang unik itu. Biarlah itu menjadi kajian biologi saja. Karena kali ini kita akan perbincangkan tentang pendidikan asexual. Jangan salah dulu, kita juga tak akan berbincang tentang seks, kecuali seksnya si siput tadi. Bukan. Bukan ingin memperbincangkan tentang bagaimana kita dapat berkembangbiak tanpa pasangan, sebagaimana Maryam melahirkan Isa tanpa ayah. Itu mustahil kan?
Nah, kita akan berbincang tentang model pendidikan. Apa kaitannya dengan siput? Apa kaitannya denganasexsual? Ada kok. Model pendidikan sebenarnya dapat dibagi menjadi dua; pendidikan asexsual dan pendidikan sexual. Ini analogi menurut Sabrang. Engkau kenal Sabrang? Ah, sepertinya tidak ya? Baiklah, kalau engkau penikmat musik, Sabrang itu lebih dikenal dengan si Noe. Vokalisnya Letto itu loh...
Lalu apa maksudnya pendidikan asexsual dan pendidikan sexual? Kita kembali dulu ke biologi. Dalam perkembangbiakan asexual, berarti sang ibu menurunkan Gen-nya seratus persen kepada anaknya. Jadi si anak merupakan fotokopian ibunya. Dia mewarisi segala sifat ibunya. Sedang dalam perkembangbiakanasexual, tentu anak akan mewarisi gen dari ibu dan bapaknya. Sifat-sifatnya tak akan persis sama dengan ibunya ataupun sama persis dengan bapaknya, melainkan campuran dari keduanya. Mungkin juga muncul sifat baru yang sama sekali berbeda.
Dengan demikian perkembangbiakan asexual dapat juga disebut model reproduksi. Sedang perkembangbiakan sexual dapat disebut model produksi. Hemm..., masih belum nyambung dengan pendidikan ya? Oke, pendidikan, esensinya adalah proses transfer informasi seperti dalam perkembangbiakan makhluk hidup yang mentransfer informasi genetika. Bedanya yang ditransfer adalah ilmu pengetahuan, bukan gen.
Masih menurut Sabrang, model reproduksi (asexual) bila digunakan dalam sistem pendidikan, sangat sesuai dengan bidang kajian ilmu-ilmu eksak seperti matematika, fisika atau kimia. Sebab ilmu-ilmu eksak sangat membutuhkan temuan-temuan terdahulu untuk mendukung kajian-kajian selanjutnya.
Sedang model produksi (sexual) akan cocok untuk kajian-kajian sosial dan kemanusiaan, seperti sosiologi, ilmu politik, psikologi dan sebagainya. Sebab ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan membutuhkan penyesuaian-penyesuaian terus-menerus dengan perubahan lingkungan, gaya hidup dab sebagainya. Sangat mungkin teori-teori yang telah berkembang gugur oleh penemuan baru. Maka model sexual insya Allah ini mampu melahirkan cara berpikir kritis dan analitis.
Sayangnya, pendidikan di negeri ini sepertinya lebih fokus pada model pertama, model produksi atausexual. Guru mentransfer penuh ilmunya kepada murid-muridnya. Guru kurang mendorong murid-muridnya untuk berpikir kritis dan analitis. Dalam ujian misalnya, murid diberikan soal-soal yang jawabannya pasti. Malam umumnya tinggal memilih salah satu di antara poin a, b, c atau d. Terkadang kata-kata yang digunakan pun persis seperti yang ada di buku.
Nah, model ini dapat menghasilkan orang-orang pintar yang mampu menjuarai olimpiade matematika atauscience. Tapi sekali lagi, kurang mendukung cara berpikir kritis dan analitis. Padahal hal itu sama pentingnya dengan menjadi pintar.
Mungkin memang semenjak dulu kala, pendidikan di negeri ini lebih fokus pada model reproduksi (asexual). Terbukti dalam pendirian berbagai macam organisasi di Indonesia, dari organisasi massa sampai partai politik, kebanyakan mengopi Barat. Kali ini menurut bapaknya si Sabrang, alias Emha Ainun Nadjib. Menurutnya, bahkan pendirian negara ini juga mengopi Barat. KUHP-nya fotokopian, undang-undangnya fotokopian, peraturannya fotokopian, dan seterusnya. Semua mengopi dari Barat.
Maka, model pendidikan reproduksi (asexual) tentu harus diimbangi dengan model pendidikan produkse (sexsual). Untuk model kedua ini, Emha mengkiyaskan dengan satu istilah dalam ilmu fiqih, yaitu ijtihad. Dalam Ensiklopedia Islam, istihad berarti mengerahkan segala tenaga dan pikiran untuk menyelidiki dan mengeluarkan (meng-istimbat-kan) hukum-hukum yang terkandung dalam al-Qur’an dengan syarat-syarat tertentu.
Dalam ijtihad ini seorang ulama atau penuntut ilmu memerlukan pemikiran mendalam, pertimbangan yang adil dan matang serta referensi yang kaya, tak hanya memadai tapi juga harus kuat untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Jadi tak sekedar mengopi ilmu yang sudah ada.
Nah, bagaimana kita mengembangkan model pendidikan reproduksi, sexual atau ijtihad ini di lingkungan sekolah? Sekali lagi menjadi PR yang terus menerus mesti kita garap. Wallahu a’lam bi shawab. Semoga ada manfaatnya. Silahkan di-share bila engkau merasa artikel ini bermanfaat.
Engkau seorang guru? Bagaimana engkau mengajar di kelas? Apakah engkau yakin anak di kelas menyenangi cara mengajar yang engkau lakukan? Atau mungkin mereka sering merasa bosan, jenuh dan tak tertarik mengikuti pelajaran. Atau anak-anak itu justru seringkali ramai, mengobrol seenak mereka, lalu sebagian lagi melamun, sedang yang lainnya terkantuk-kantuk?
Bagaimana kira-kira pendapat mereka tentangmu? Guru teladan, guru menyenangkan, guru gaul, guru mbosenin, guru killer, atau guru gak jelas?
Iya, sebagai guru kita perlu menengok diri, apakah benar sudah menjadi guru yang patut diteladani dan menyenangkan bagi anak-anak didik kita. Atau justru mereka lebih banyak menangkap kesan negatif tentang kita. Bila menengok di sekolah-sekolah, di kelas-kelas, kita akan mendapati banyak guru yang mengajar sekedarnya saja, kalau tidak mau dibilang sekenanya. Monoton, membosankan bagi anak. Setiap masuk kelas begitu-begitu saja. Memberi salam, menjelaskan, memberikan soal, sudah. Dari hari ke hari tak ada hal baru. Materinya pelajarannya saja yang berganti-ganti sesuai silabus dan RPP yang dia copy, paste dan print. Tahun depan, ketika mengajar materi yang sama, dia mereka akan bawakan dengan gaya yang nyaris sama persis.
Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.
Hal pertama Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.
Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)
Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.
Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:
Dalam teori kurikulum (Anita Lie, 2012) keberhasilan suatu
kurikulum merupakan proses panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan
dan konsep ideal tentang pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan
pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana, tata kelola
pelaksanaan kurikulum --termasuk pembelajaran-- dan penilaian pembelajaran dan
kurikulum.
Struktur kurikulum dalam hal perumusan desain kurikulum, menjadi
amat penting. Karena begitu struktur yang disiapkan tidak mengarah sekaligus
menopang pada apa yang ingin dicapai dalam kurikulum, maka bisa dipastikan
implementasinya pun akan kedodoran.
Pada titik inilah, maka penyampaian struktur kurikulum dalam uji publik ini menjadi penting. Tabel 1 menunjukkan dasar pemikiran perancangan struktur kurikulum SD, minimal ada sebelas item. Sementara dalam rancangan struktur kurikulum SD ada tiga alternatif yang di mesti kita berikan masukan
*http://www.kemdiknas.go.id
Visi SDIT
Memposisikan
SD IT Buah Hati sebagai pusat
keunggulan yang mampu mengembangkan siswa menjadi generasi cerdas, mandiri dan
berkarakter rabbani
Cerdas yang dimaksud dalam hal ini, antara lain meliputi :
1. Cerdas intelektual : artinya, aktualisasi diri dalam olah pikir kritis,
kreatif, imajinatif untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Cerdas spiritual : artinya, aktualisasi diri dalam keimanan dan
ketakwaan untuk mencapai keluhuran budi dan kepribadian unggul
3. Cerdas emosional : artinya, aktualisasi diri dalam olah rasa untuk
meningkatkan sensivitas terhadap keindahan seni dan budaya
4. Cerdas sosial : artinya, aktualisasi diri dalam interaksi masyarakat
5. Cerdas kinestetis : artinya aktualisasi insan adiraga untuk mewujudkan
insan sehat, bugar, berdaya tahan, sigap, terampil dan trengginas.
Mandiri yang dimaksud dalam
hal ini adalah mempunyai keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri serta
sikap berani dan sikap tak kenal
menyerah dalam menghadapi berbagai aral rintangan yang menghadang di masa yang
akan datang.
Berkarakter rabbani
yang dimaksud dalam hal ini adalah seorang pribadi SD IT Buah Hati seorang anak yang dalam setiap
potensi dalam dirinya diwarai oleh ajaran islam. Jiwanya telah dipenuhi dengan
aqidah islam yang benar, pikirannya berkembang secara kontinyu untuk melihat
berbagai wujud ayat-ayat Allah swt, fisiknya dilatih dan digunakan juga untuk beramal, beribadah
kepada Allah dengan segenap
ajaran islam yang telah ia peroleh.
Misi SDIT
1. Mengintegrasikan ilmu pengetahuan agama dan
umum secara utuh.
2. Membentuk peserta didik yang cerdas, kreatif,
bertaqwa dan berakhlak mulia.
3. Mempertinggi prestasi peserta didik melalui
berbagai kesempatan.
4. Mempersiapkan peserta didik dalam meniti jenjang pendidikan selanjutnya.
4. Mempersiapkan peserta didik dalam meniti jenjang pendidikan selanjutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
